Senin, 15 Desember 2014

HAKIKAT DOA ( Menurut: Friedrich Heiler)



HAKIKAT  DOA
Friedrich Heiler
( Menurut: Friedrich Heiler)
Oleh Lee Risar

1       PENGERTIAN
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan hakikat sebagai intisari, dasar atau kenyataan yang sebenarnya. Sedangkan doa didefinisikan sebagai permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan.[1] Hakikat doa berarti intisari dari komunikasi dengan Tuhan. Hakikat doa dapat diartikan pula sebagai kenyataan yang sebenarnya dari komunikasi dengan Tuhan dalam rupa permohonan atau pujian.
Doa sebagai suatu permohonan dan pujian kepada Tuhan atau sang wujud tertinggi seperti yang didefinisikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia di atas mengandaikan manusia telah mengenal dan merasa dekat dengan sang wujud tertinggi. Pengenalan terhadap sang wujud tertinggi dapat dikatakan sebagai langkah awal untuk berdoa.
Bagaimana manusia dapat mengenal wujud tertinggi itu? Manusia dalam dirinya sebenarnya telah memiliki kemampuan untuk mengenal Allah. Proses pengenalan itu terjadi melalui beberapa tahap. Pertama, manusia mengalami dirinya sebagai makhluk yang terbatas dan bergantung pada daya atau kekuasaan yang ada di luar dirinya dan berbeda dengan dirinya. Pengalaman ini mendorong manusia untuk keluar dari dirinya dan berkontak dengan yang lain di luar dirinya itu. Kecenderungan dasar untuk membuka diri kepada yang lain di luar dirinya menyiratkan kerinduan kodrati manusia akan kepenuhan eksistensinya atau demi mencapai kesempurnaan. Dorongan ini bersifat kodrati karena sudah terstruktur dan terpateri secara integral dalam diri manusia. Manusia pada hakekatnya terbuka dan terarah kepada yang transcendental, yang ilahi, yang tak terbatas, yang absolut. Karl Rahner menyebut manusia sebagai makhluk transendental. Dengan dorongan inilah manusia dapat mengenal wujud tertinggi.[2]


2       HAKIKAT DARI DOA
Dalam kehidupan setiap hari kita dapat menjumpai banyak orang berdoa bahkan kita sendiri sering melakukannya. Ada banyak ragam doa dan dengan kontras yang berbeda-beda. Ada doa di saat hendak makan, ada doa ketika sedang kagum melihat ciptaan, ada doa disaat sedang sakit, ada doa di kala sedang bahagia, ada doa perorangan, ada pula doa yang dilakukan secara berkelompok. Doa dapat dilakukan dimana saja. Sebuah ajakkan untuk berdoa berbunyi “Berdoalah di mana saja Anda berada. Tuhan ada di mana-mana.”[3]
Ketika mengkaji aneka kontras dan meneliti pelbagai jenis utama doa yang berbeda, satu pertanyaan yang timbul ialah “apa yang menjadi dasar / hakikat dari doa”. Jika kita hendak memahami hakikat doa, kita harus mengkaji lebih cermat jenis-jenis doa dimana kita melihatnya sebagai ungkapan kopolosan jiwa. Kita perlu memisahkan doa primer dari doa sekunder. 
2.1      Doa Primer dan Doa Sekunder
Jenis-jenis doa primer tidak bisa dirancukan dengan yang lain. Doa primer merupakan ungkapan kepolosan jiwa misalnya doa polos manusia primitif, kehidupan devosional para arifin agama, doa-doa para sosok kenamaan, doa bersama pada kebaktian umum sejauh ia tidak membeku menjadi suatu pranata sakral yang kaku. Dari semua contoh ini doa tampil sebagai fakta psikis murni, ekspresi langsung dari suatu pengalaman jiwa yang asli lagi mendalam. Doa primer tercurah dengan energi bawaan.[4]
Doa-doa sekunder tidak lagi menjadi pengalaman pribadi dan asli, tetapi sebuah tiruan atau pembekuan atas pengalaman hidup. Doa pribadi seorang religius kebanyakan kurang-lebih merupakan refleksi sejati terhadap pengalaman asli orang lain. Doa sekunder lebih rendah daripada model ideal baik seturut kekuatan, kedalaman maupun vitalitasnya. Gagasan filosofis tentang doa adalah abstraksi dingin yang dibangun agar selaras dengan patokan etika dan metafisika. Doa yang hidup ditaklukkan pada sebuah hukum asing, yakni prinsip-prinsip filosofis, dan ditrasformasi serta direvisi seturut hukum ini. Hasil amendemen semacam ini bukan lagi doa riil, tetapi bayangannya, topeng buatan yang mati. Doa sekunder lebih dilihat sebagai tindakkan lahiriah, bukan sebagai suatu kontak batiniah dengan Allah.[5]
2.2      Akar Umum Psikologis dan Syarat Hakiki Doa
Untuk menjawab pertanyaan “apa hakikat dari doa?”, kita mesti pertama-tama menemukan motif hakiki doa yakni akar psikologisnya. Apa yang menggerakkan manusia untuk berdoa? Apa yang dicarinya ketika berdoa? Da Costa Guimaraens, seorang psikolog Prancis, mendefinisikan “Berdoa berarti memenuhi suatu kebutuhan psikis”. Definisi ini dangkal dan tambahan pula dirumuskan secara boyak, namun berada di jalur motivasi psikologis yang benar.
Doa adalah ekspresi dari suatu dorongan primitif kepada kehidupan yang lebih tinggi, lebih kaya, lebih mendalam. Doa dalam nilai manapun entah eudamonistik, etis, atau murni agama, ia selalu merupakan keriduan besar akan kehidupan yang lebih kuat, lebih murni dan lebih diberkati. Upaya untuk memperkuat, menopang dan meningkatkan kehidupan seorang merupakan satu motif di balik semua doa. Ini merupakan akar  umum psikologis dari doa.[6]
Namun penemuan akar umum psikologis dari doa tidak menyingkapkan hakikatnya yang khas. Untuk sampai ke dasar terdalam doa, kita mesti menjelaskan ide-ide religius dari orang yang berdoa dalam kesederhanaan, kita mesti memahami sikap batin dan tujuan spiritualnya, anggapan-anggapan intelektual yang mendasari doa sebagai sebuah pengalaman psikis. Apa yang dipikirkan seorang saleh sederhana, tanpa terganggu oleh refleksi, ketika ia berdoa? Ia percaya bahwa ia berbicara dengan seorang Allah, yang hadir secara langsung, segera dan pribadi, bercakap-cakap dengan-Nya, bahwa ada suatu pertukaran spiritual yang vital di antara mereka.
Ada tiga unsur yang membentuk struktur batin pengalaman doa yakni:
-                Iman akan seorang pribadi Allah yang hidup.
-                iman akan kehadiran-nya yang riil, langsung dan segera.
-                Suatu persekutuan nyata kedalamnya manusia masuk dengan sorang Allah yang diyakini ada dan hadir.[7]

Menurut Tylor doa adalah sapaan dari satu roh pribadi keada satu roh peribadi. Iman akan keperibadian Allah merupakan pengandaian yang mutlak diperlukan ia menjadi syarat hakiki semua doa.
Keajaiban doa tidak terletak pada terkabulnya doa, dalam pengaruh manusia pada Allah, tetapi dalam kontak misterius yang datang melintas antara roh terbatas dan Roh Tak Terbatas.[8] Berkat kenyataan inilah maka doa adalah persekutuan sejati mansia dengan Allah sesuatu yang tidak meluluh psikologis melainkan juga transendental dan metafisik. Tholuck menyebut “bukan meluluh kekuatan duniawi melainkan juga kekuatan yang menjangkau hingga ke surga”. Menyetir perkataan Soderblom “pada kedalaman hidup batinia kita, kita bukan sekedar suatu gemma dari suara kita sendiri, dari keberadaan kita sendiri yang memantul dari kedalaman paling pekat kepribadian melainkan suatu realitas yang lebih tinggi dan lebih besar dari diri kita sendiri, yang boleh kita sembah dan padanya kita boleh menaruh percaya”.
2.3      Hakikat Doa
Doa adalah suatu persekutuan hidup seorang manusia religius dengan Allah, yang dipikirkan sebagai yang personal dan hadir dalam pengalaman, suatu persekutuan yang mencerminkan aneka relasi sosial manusia. Inilah hakikat dari doa. Hakikat ini secara tidak sempurna terwujud dalam jenis-jenis doa sekunder.[9]
Definisi tentang hakikat doa menjelaskan kesaksian bahwa doa merupakan pusat agama, jiwa dari semua bentuk kesalehan. Doa adalah suatu persekutuan hidup manusia dengan Allah. Doa membawa manusia berkontak langsung dengan Allah, ke dalam suatu relasi pribadi dengan-Nya. Tanpa doa iman hanyalah keyakinan teoretis belaka; kebaktian semata-mata suatu tindakan lahiriah dan formal; perbuatan moral kehilangan kedalaman spiritualnya; manusia tetap berada nun jauh dari Allah; sebuah jurang membentang antara yang terbatas dan Yang Tak Terbatas. Luther mengungkapkan “Allah di surga dan engkau di bumi Allah. Kita tidak dapat datang kepada Allah, kecuali melalui doa saja, karena ia terlalu tinggi di atas kita.” Dalam doa manusia naik ke surga, surga turun ke bumi, tabir antara yang kelihatan dan yang tidak kelihatan koyak terbelah, manusia datang ke hadirat Allah untuk berbicara dengan Dia tentang kesejahteraan dan keselamatan jiwanya. Metildis dari Magdeburg menyebut “Doa menarik turun Allah yang agung kedalam hati yang dina; doa membawa jiwa yang lapar naik ke hadirat Allah dlam kepenuhan-Nya.” Johann Arndt menyebut “Dalam doa yang tertinggi dan yang terendah bersatu, hati yang paling rendah dan Allah yang paling agung”.


3       DOA DAN FENOMENA RELIGIUS YANG LEBIH UMUM (ADORASI DAN DEVOSI)
Kalau kita hendak membedakan secara tegas di antara aneka pengalaman religius dan keadaan mental yang berkaitan dengan doa, yang memainkan suatu peran penting dalam agama para filsuf dan mistik, dengan doa itu sendiri yang semata-mata ditilik dari sudut pandang yang membuatnya layak disebut doa, maka mutlak diperlukan beberapa penjelasan tentang apa yang kita maksudkan dengan “adorasi” dan “devosi”.[10]
Adorasi (kontemplasi penuh takzim) dan devosi merupakan dua unsur yang mutlak diperlukan dalam pengalaman religius. Keduanya merujuk pada aneka pengalaman dan suasana religius, yang coraknya jelas-jelas sangat berbeda dari hakikat doa.
Devosi:
Devosi (andacht) adalah suatu prasyarat mutlak dan fondasi yang sama seperti doa dan adorasi. Orang yang berdoa bercakap-cakap dengan Allah, orang yang menyembah dalam adorasi diserap oleh idealnya yang tertinggi. Keduanya sama-sama saleh, tenang, penuh konsentrasi. Namun keadaan jiwa dalam kontemplasi bisa menghilangkan begitu saja setiap rujukan pada Allah atau kebaikan tertinggi.
Devosi pertama-tama adalah konsentrasi pikiran pada satu titik tertentu, satu keadaan kesadaran yang terjaga penuh di mana cakupannya sangat dibatasi. Namun devosi bukan sekedar konsentrasi mental belaka. Devosi berbeda dari intensitas perhatian, ia merupakan suasana jiwa yang mulia, tenang, ditinggikan, dikuduskan. Contoh devosi misalnya seorang tak beragama ketika ia masuk ke dalam keremangan hening sebuah katedral megah atau menyaksikan misa mulia di sebuah gereja Katolik Roma. Devosi bisa naik menjadi absorpsi tuntas. Dalam absorpsi itu sang mistikus mengalami keheningan dan ketenangan yang sempurna, sukacita dan kesenyapan yang kudus.[11]
Adorasi:
Adorasi adalah kontemplasi mulia tentang “Yang Esa” sebagai Kebaikan Tertinggi, penyerahan diri tanpa syarat kepada-Nya, sebagai percampuran adaku dan Ada-Nya.[12] Kita malah menyaksikan hal ini dalam kehidupan religius orang-orang primitif. Rasa takjub yang ditunjukkan secara kasatmata oleh manusia primitive melalui perkataan dan gerak tubuh manakala ia berdiri di hadapan sebuah “objek suci”, yakni sebuah benda yang dipenuhi oleh kekuatan adikodrati dan magis. Ini merupakan adorasi meskipun dalam bentuknya yang kasar dan tidak sempurna.
Dengan kata “adorasi” kita merujuk pada keadaan terperangkap oleh kebaikan tertinggi, penyerahan diri total kepadanya, entah kebaikan itu bersifat religius (numinous) atau “sekular”, kodrati atau adikodrati, duniawi atau surgawi. Segala sesuatu yang dialami manusia sebagai kebaikan tertinggi, apa pun objeknya dapat juga dalam arti luas menjadi objek adorasi. Jika “cinta” berarti kepercayaan manusia pada kebaikan tertinggi, maka adorasi adalah kepercayaan semacam ini pada titik tertinggi intensitasnya, puncak cinta.
Orang yang menyembah dalam adorasi terus merenungkan objek idealnya. Ia disarati ilham, kekaguman, kegairahan, dan kerinduan. Semua pikiran dan keinginan lain sirna. Ia hanya milik satu objek dan ia kehilangan dirinya sendiri di dalamnya. Di dalam objek yang memilikinya ia larut dan lenyap. Adorasi adalah penyerahan diri kontemplatif pada suatu kebaikan tertinggi.
***
Devosi adalah suasana jiwa yang tenang, mulia yang disebabkan kontemplasi atas nilai –nilai etis dan intelektual, namun terutama nilai-nilai estetis dan religius, entah terhadap objek-objek eksternal atau konsepsi-konsepsi imajinatif yang didominasi perasaan. Apabila adorasi berkaitan secara internal dengan satu objek ideal dan memegangnya erat dengan energi konvulsif, maka prasyarat objektif dari pengalaman tindakan-tindakan devosi semata-mata merupakan stimulus. Devosi itu sendiri cenderung terpisah dari prasyarat objektifnya, dan menjadi subjektif seluruhnya, terkonsentrasi dan terserap. Adorasi bercorak objektif sedangkan devosi bercorak subjektif.[13]  
4       PERTANYAAN DISKUSI
4.1         Apakah ibadat harian dengan menggunakan brevier dengan rumusan-rumusan yang tetap dan kaku merupakan doa?  Jika ibadat harian adalah doa, bagaimana ia memenuhi hakikat dari doa.
4.2         Diskusi: Di setiap daerah kita, tentu memiliki fenomena kepercayaan tradisional. Masyarakat tradisional melakukan acara adat di hadapan pohon-pohon besar, batu-batu besar atau di rumah adat dan di tempat tertentu yang dianggap sakral, sambil melakukan permohonan. Masyarakat memohon datangnya hujan, kesuburan dan sebagainya. Apakah fenomena ini dapat dikategorikan sebagai doa?




DAFTAR  KEPUSTAKAAN
                                                                                

KAMUS            
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.

SUMBER UTAMA      
Heiler, Friedrich. The Essence of Prayer, dalam Prayer: A Study in the History and Psychology of Religion, Oxford: Oneworld Publication, 1997.

SUMBER LAIN                                             
       Ceme, Remigius.  Mengungkap Relasi Dasar Allah dan Manusia, (ms). Maumere: Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, 2011.
       McCellan, Keith. Terapi Doa. Jakarta: Penerbit Obor, 1997.


                                                                                               


       [1] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), p. 383 dan 271.
       [2] Remigius Ceme, Mengungkap Relasi Dasar Allah dan Manusia, (ms.) , (Maumere: Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, 2011), p. 11.
       [3] Keith McCellan, Terapi Doa (Jakarta: Penerbit Obor, 1997), no. 8.
       [4] Friedrich Heiler, The Essence of Prayer, dalam Prayer: A Study in the History and Psycology of Religion, (Oxford: Oneworld Publication, 1997).
       [5] Ibid.
       [6] Ibid.
       [7] Ibid.
       [8] Ibid.
       [9] Ibid.
       [10] Ibid.
       [11] Ibid.
       [12] Ibid.    
       [13] Ibid.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar