( Menurut: Friedrich Heiler)
Oleh Lee Risar
1
PENGERTIAN
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan hakikat sebagai intisari, dasar atau kenyataan yang
sebenarnya. Sedangkan doa didefinisikan sebagai permohonan (harapan,
permintaan, pujian) kepada Tuhan.[1]
Hakikat doa berarti intisari dari komunikasi dengan Tuhan. Hakikat doa dapat
diartikan pula sebagai kenyataan yang sebenarnya dari komunikasi dengan Tuhan
dalam rupa permohonan atau pujian.
Doa sebagai suatu permohonan dan pujian
kepada Tuhan atau sang wujud tertinggi seperti yang didefinisikan oleh Kamus
Besar Bahasa Indonesia di atas mengandaikan manusia telah mengenal dan merasa
dekat dengan sang wujud tertinggi. Pengenalan terhadap sang wujud tertinggi
dapat dikatakan sebagai langkah awal untuk berdoa.
Bagaimana manusia dapat mengenal wujud tertinggi itu?
Manusia dalam dirinya sebenarnya telah memiliki kemampuan untuk mengenal Allah.
Proses pengenalan itu terjadi melalui beberapa tahap. Pertama, manusia
mengalami dirinya sebagai makhluk yang terbatas dan bergantung pada daya atau
kekuasaan yang ada di luar dirinya dan berbeda dengan dirinya. Pengalaman ini
mendorong manusia untuk keluar dari dirinya dan berkontak dengan yang lain di
luar dirinya itu. Kecenderungan dasar untuk membuka diri kepada yang lain di
luar dirinya menyiratkan kerinduan kodrati manusia akan kepenuhan eksistensinya
atau demi mencapai kesempurnaan. Dorongan ini bersifat kodrati karena sudah
terstruktur dan terpateri secara integral dalam diri manusia. Manusia pada
hakekatnya terbuka dan terarah kepada yang transcendental, yang ilahi, yang tak
terbatas, yang absolut. Karl Rahner menyebut manusia sebagai makhluk
transendental. Dengan dorongan inilah manusia dapat mengenal wujud tertinggi.[2]
2
HAKIKAT DARI DOA
Dalam kehidupan setiap hari kita dapat
menjumpai banyak orang berdoa bahkan kita sendiri sering melakukannya. Ada
banyak ragam doa dan dengan kontras yang berbeda-beda. Ada doa di saat hendak
makan, ada doa ketika sedang kagum melihat ciptaan, ada doa disaat sedang
sakit, ada doa di kala sedang bahagia, ada doa perorangan, ada pula doa yang
dilakukan secara berkelompok. Doa dapat dilakukan dimana saja. Sebuah ajakkan
untuk berdoa berbunyi “Berdoalah di mana saja Anda berada. Tuhan ada di
mana-mana.”[3]
Ketika mengkaji aneka kontras dan meneliti
pelbagai jenis utama doa yang berbeda, satu pertanyaan yang timbul ialah “apa
yang menjadi dasar / hakikat dari doa”. Jika kita hendak memahami hakikat doa,
kita harus mengkaji lebih cermat jenis-jenis doa dimana kita melihatnya sebagai
ungkapan kopolosan jiwa. Kita perlu memisahkan doa primer dari doa sekunder.
2.1
Doa Primer dan Doa Sekunder
Jenis-jenis doa primer tidak bisa dirancukan
dengan yang lain. Doa primer merupakan ungkapan kepolosan jiwa misalnya doa
polos manusia primitif, kehidupan devosional para arifin agama, doa-doa para
sosok kenamaan, doa bersama pada kebaktian umum sejauh ia tidak membeku menjadi
suatu pranata sakral yang kaku. Dari semua contoh ini doa tampil sebagai fakta
psikis murni, ekspresi langsung dari suatu pengalaman jiwa yang asli lagi
mendalam. Doa primer tercurah dengan energi bawaan.[4]
Doa-doa sekunder tidak lagi menjadi
pengalaman pribadi dan asli, tetapi sebuah tiruan atau pembekuan atas
pengalaman hidup. Doa pribadi seorang religius kebanyakan kurang-lebih merupakan
refleksi sejati terhadap pengalaman asli orang lain. Doa sekunder lebih rendah
daripada model ideal baik seturut kekuatan, kedalaman maupun vitalitasnya.
Gagasan filosofis tentang doa adalah abstraksi dingin yang dibangun agar
selaras dengan patokan etika dan metafisika. Doa yang hidup ditaklukkan pada
sebuah hukum asing, yakni prinsip-prinsip filosofis, dan ditrasformasi serta
direvisi seturut hukum ini. Hasil amendemen semacam ini bukan lagi doa riil,
tetapi bayangannya, topeng buatan yang mati. Doa sekunder lebih dilihat sebagai
tindakkan lahiriah, bukan sebagai suatu kontak batiniah dengan Allah.[5]
2.2
Akar Umum Psikologis dan Syarat Hakiki Doa
Untuk menjawab pertanyaan “apa hakikat dari
doa?”, kita mesti pertama-tama menemukan motif hakiki doa yakni akar psikologisnya.
Apa yang menggerakkan manusia untuk berdoa? Apa yang dicarinya ketika berdoa?
Da Costa Guimaraens, seorang psikolog Prancis, mendefinisikan “Berdoa berarti
memenuhi suatu kebutuhan psikis”. Definisi ini dangkal dan tambahan pula
dirumuskan secara boyak, namun berada di jalur motivasi psikologis yang benar.
Doa adalah ekspresi dari suatu dorongan
primitif kepada kehidupan yang lebih tinggi, lebih kaya, lebih mendalam. Doa
dalam nilai manapun entah eudamonistik, etis, atau murni agama, ia selalu
merupakan keriduan besar akan kehidupan yang lebih kuat, lebih murni dan lebih
diberkati. Upaya untuk memperkuat, menopang dan meningkatkan kehidupan seorang
merupakan satu motif di balik semua doa. Ini merupakan akar umum psikologis dari doa.[6]
Namun penemuan akar umum psikologis dari doa
tidak menyingkapkan hakikatnya yang khas. Untuk sampai ke dasar terdalam doa,
kita mesti menjelaskan ide-ide religius dari orang yang berdoa dalam
kesederhanaan, kita mesti memahami sikap batin dan tujuan spiritualnya,
anggapan-anggapan intelektual yang mendasari doa sebagai sebuah pengalaman
psikis. Apa yang dipikirkan seorang saleh sederhana, tanpa terganggu oleh
refleksi, ketika ia berdoa? Ia percaya bahwa ia berbicara dengan seorang Allah,
yang hadir secara langsung, segera dan pribadi, bercakap-cakap dengan-Nya,
bahwa ada suatu pertukaran spiritual yang vital di antara mereka.
Ada tiga unsur yang membentuk struktur batin
pengalaman doa yakni:
-
Iman akan seorang pribadi Allah
yang hidup.
-
iman akan kehadiran-nya yang riil,
langsung dan segera.
-
Suatu persekutuan nyata
kedalamnya manusia masuk dengan sorang Allah yang diyakini ada dan hadir.[7]
Menurut Tylor doa adalah sapaan dari satu
roh pribadi keada satu roh peribadi. Iman akan keperibadian Allah merupakan
pengandaian yang mutlak diperlukan ia menjadi syarat hakiki semua doa.
Keajaiban doa tidak terletak pada
terkabulnya doa, dalam pengaruh manusia pada Allah, tetapi dalam kontak
misterius yang datang melintas antara roh terbatas dan Roh Tak Terbatas.[8]
Berkat kenyataan inilah maka doa adalah persekutuan sejati mansia dengan Allah
sesuatu yang tidak meluluh psikologis melainkan juga transendental dan
metafisik. Tholuck menyebut “bukan meluluh kekuatan duniawi melainkan juga
kekuatan yang menjangkau hingga ke surga”. Menyetir perkataan Soderblom “pada
kedalaman hidup batinia kita, kita bukan sekedar suatu gemma dari suara kita
sendiri, dari keberadaan kita sendiri yang memantul dari kedalaman paling pekat
kepribadian melainkan suatu realitas yang lebih tinggi dan lebih besar dari
diri kita sendiri, yang boleh kita sembah dan padanya kita boleh menaruh
percaya”.
2.3 Hakikat Doa
Doa adalah suatu persekutuan hidup seorang
manusia religius dengan Allah, yang dipikirkan sebagai yang personal dan hadir
dalam pengalaman, suatu persekutuan yang mencerminkan aneka relasi sosial
manusia. Inilah hakikat dari doa. Hakikat ini secara tidak sempurna terwujud
dalam jenis-jenis doa sekunder.[9]
Definisi tentang hakikat doa menjelaskan
kesaksian bahwa doa merupakan pusat agama, jiwa dari semua bentuk kesalehan.
Doa adalah suatu persekutuan hidup manusia dengan Allah. Doa membawa manusia
berkontak langsung dengan Allah, ke dalam suatu relasi pribadi dengan-Nya.
Tanpa doa iman hanyalah keyakinan teoretis belaka; kebaktian semata-mata suatu
tindakan lahiriah dan formal; perbuatan moral kehilangan kedalaman
spiritualnya; manusia tetap berada nun jauh dari Allah; sebuah jurang
membentang antara yang terbatas dan Yang Tak Terbatas. Luther mengungkapkan
“Allah di surga dan engkau di bumi Allah. Kita tidak dapat datang kepada Allah,
kecuali melalui doa saja, karena ia terlalu tinggi di atas kita.” Dalam doa
manusia naik ke surga, surga turun ke bumi, tabir antara yang kelihatan dan
yang tidak kelihatan koyak terbelah, manusia datang ke hadirat Allah untuk
berbicara dengan Dia tentang kesejahteraan dan keselamatan jiwanya. Metildis
dari Magdeburg menyebut “Doa menarik turun Allah yang agung kedalam hati yang
dina; doa membawa jiwa yang lapar naik ke hadirat Allah dlam kepenuhan-Nya.”
Johann Arndt menyebut “Dalam doa yang tertinggi dan yang terendah bersatu, hati
yang paling rendah dan Allah yang paling agung”.
3
DOA DAN FENOMENA RELIGIUS YANG LEBIH UMUM (ADORASI DAN
DEVOSI)
Kalau kita hendak membedakan secara tegas di
antara aneka pengalaman religius dan keadaan mental yang berkaitan dengan doa,
yang memainkan suatu peran penting dalam agama para filsuf dan mistik, dengan
doa itu sendiri yang semata-mata ditilik dari sudut pandang yang membuatnya
layak disebut doa, maka mutlak diperlukan beberapa penjelasan tentang apa yang
kita maksudkan dengan “adorasi” dan “devosi”.[10]
Adorasi (kontemplasi penuh takzim) dan
devosi merupakan dua unsur yang mutlak diperlukan dalam pengalaman religius.
Keduanya merujuk pada aneka pengalaman dan suasana religius, yang coraknya
jelas-jelas sangat berbeda dari hakikat doa.
Devosi:
Devosi (andacht) adalah suatu
prasyarat mutlak dan fondasi yang sama seperti doa dan adorasi. Orang yang
berdoa bercakap-cakap dengan Allah, orang yang menyembah dalam adorasi diserap
oleh idealnya yang tertinggi. Keduanya sama-sama saleh, tenang, penuh
konsentrasi. Namun keadaan jiwa dalam kontemplasi bisa menghilangkan begitu
saja setiap rujukan pada Allah atau kebaikan tertinggi.
Devosi pertama-tama adalah konsentrasi
pikiran pada satu titik tertentu, satu keadaan kesadaran yang terjaga penuh di
mana cakupannya sangat dibatasi. Namun devosi bukan sekedar konsentrasi mental
belaka. Devosi berbeda dari intensitas perhatian, ia merupakan suasana jiwa
yang mulia, tenang, ditinggikan, dikuduskan. Contoh devosi misalnya seorang tak
beragama ketika ia masuk ke dalam keremangan hening sebuah katedral megah atau
menyaksikan misa mulia di sebuah gereja Katolik Roma. Devosi bisa naik menjadi
absorpsi tuntas. Dalam absorpsi itu sang mistikus mengalami keheningan dan
ketenangan yang sempurna, sukacita dan kesenyapan yang kudus.[11]
Adorasi:
Adorasi adalah kontemplasi mulia tentang
“Yang Esa” sebagai Kebaikan Tertinggi, penyerahan diri tanpa syarat kepada-Nya,
sebagai percampuran adaku dan Ada-Nya.[12]
Kita malah menyaksikan hal ini dalam kehidupan religius orang-orang primitif.
Rasa takjub yang ditunjukkan secara kasatmata oleh manusia primitive melalui
perkataan dan gerak tubuh manakala ia berdiri di hadapan sebuah “objek suci”,
yakni sebuah benda yang dipenuhi oleh kekuatan adikodrati dan magis. Ini
merupakan adorasi meskipun dalam bentuknya yang kasar dan tidak sempurna.
Dengan kata “adorasi” kita merujuk pada
keadaan terperangkap oleh kebaikan tertinggi, penyerahan diri total kepadanya,
entah kebaikan itu bersifat religius (numinous) atau “sekular”, kodrati atau
adikodrati, duniawi atau surgawi. Segala sesuatu yang dialami manusia sebagai
kebaikan tertinggi, apa pun objeknya dapat juga dalam arti luas menjadi objek
adorasi. Jika “cinta” berarti kepercayaan manusia pada kebaikan tertinggi, maka
adorasi adalah kepercayaan semacam ini pada titik tertinggi intensitasnya,
puncak cinta.
Orang yang menyembah dalam adorasi terus
merenungkan objek idealnya. Ia disarati ilham, kekaguman, kegairahan, dan
kerinduan. Semua pikiran dan keinginan lain sirna. Ia hanya milik satu objek
dan ia kehilangan dirinya sendiri di dalamnya. Di dalam objek yang memilikinya
ia larut dan lenyap. Adorasi adalah penyerahan diri kontemplatif pada suatu
kebaikan tertinggi.
***
Devosi adalah suasana jiwa yang tenang,
mulia yang disebabkan kontemplasi atas nilai –nilai etis dan intelektual, namun
terutama nilai-nilai estetis dan religius, entah terhadap objek-objek eksternal
atau konsepsi-konsepsi imajinatif yang didominasi perasaan. Apabila adorasi berkaitan
secara internal dengan satu objek ideal dan memegangnya erat dengan energi
konvulsif, maka prasyarat objektif dari pengalaman tindakan-tindakan devosi
semata-mata merupakan stimulus. Devosi itu sendiri cenderung terpisah dari
prasyarat objektifnya, dan menjadi subjektif seluruhnya, terkonsentrasi dan
terserap. Adorasi bercorak objektif sedangkan devosi bercorak subjektif.[13]
4 PERTANYAAN DISKUSI
4.1
Apakah ibadat harian dengan menggunakan
brevier dengan rumusan-rumusan yang tetap dan kaku merupakan doa? Jika ibadat harian adalah doa, bagaimana ia
memenuhi hakikat dari doa.
4.2
Diskusi: Di setiap daerah kita, tentu
memiliki fenomena kepercayaan tradisional. Masyarakat tradisional melakukan
acara adat di hadapan pohon-pohon besar, batu-batu besar atau di rumah adat dan
di tempat tertentu yang dianggap sakral, sambil melakukan permohonan.
Masyarakat memohon datangnya hujan, kesuburan dan sebagainya. Apakah fenomena
ini dapat dikategorikan sebagai doa?
DAFTAR KEPUSTAKAAN
KAMUS
Departemen
Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
SUMBER UTAMA
Heiler, Friedrich. The
Essence of Prayer, dalam Prayer: A Study in the History and Psychology of
Religion, Oxford: Oneworld Publication, 1997.
SUMBER LAIN
Ceme, Remigius. Mengungkap
Relasi Dasar Allah dan Manusia, (ms). Maumere: Sekolah Tinggi Filsafat
Katolik Ledalero, 2011.
McCellan, Keith. Terapi Doa. Jakarta: Penerbit Obor, 1997.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar